" Dan tiadalah kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya kalau mereka mengetahui." (al-Ankabut: 64) history of indonesia: METODE PENDEKATAN AJARAN ISLAM

translate


loading,sabar menunggu biar diridhoi Allah SWT

Minggu, 18 Oktober 2009

METODE PENDEKATAN AJARAN ISLAM

Proses pengelolaan SDM yang telah contohkan Rasulullah SAW sehingga menghasilkan generasi berkualitas para shahabat, yang diabadikanNYA dalam surat Al fath 29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 48:29). Generasi awal yang di rekrut Rasulullah menjadi panduan bagi kita untuk mengumpulkan potensi ummat yang beragam karakter dan kompetensi, layaknya Abu Bakar ash shidiq, Ummar bin khattab, Utsman bin affan dan Ali bin abi thalib, yang selalu membersamai tinta emas perjalanan shiroh Rasulullah SAW. Seleksi yang cukup ketat yang dilakukan Rasulullah pada para shahabatnya dengan mekanisme pembinaan yang di jaga sirriyahnya di tempat Arqam bin abi Arqam.


Serta penempatan dan penugasan bagi para shahabar sebagai para duta Islam ke berbagai kekuatan dunia saat itu seperti ke Habasyah, Kisra, serta Romawi. Bahkan proses peningkatan kualitas para shahabat dengan berbagai tadrib di medan jihad seperti keberangkatan ke Badar, ketaatan di Uhud, inovasi di khandak dan lain sebagainya, yang menjadikan para shahabat menjadi generasi yang unik penuh dengan inovasi dan kejutan sejarah. Tidak lupa Rasulullah SAW pun selalu mengingatkan akan jaza’ yang disediakan Allah bagi setiap muslim yang berprestasi membangun peradaban. Sayangnya berbagai ibroh yang telah di contohkan Rasulullah SAW pada generasi para shahabat kurang bisa di kembangkan oleh ummat Islam sekarang ini. Sehingga kejumudan (statis) luar biasar terjadi pada dinamika ummat Islam di masa ini. Rekrutmen dan seleksi potensi ummat yang begitu berlimpah agar mampu dikelola untuk menghasilkan outcome yang bermanfaat sering di kesampingkan. Bahkan ummat sering merasa menikmati konflik yang ada dalam tubuh ummat Islam. Penempatan potensi serta penjagaannya dengan selalu di monitor kinerja optimalisasi potensi ummat masih belum optimal. Kerja kolektif ummat masih belum ‘berasa’. Masing-masing individu yang berpotensi tidak mampu mengarahkan keunggulan potensinya untuk menghasilkan kinerja kolektif. Bahkan sering dijumpai potensi yang ada hanya mampu di’nikmati’ oleh dirinya sendiri secara materi. Disisi lain penghargaan terhadap potensi ummat yang muncul kurang memadai. Para engginer, teknokrat dari berbagai disiplin keilmuan dan teknologi, serta penemuan berbagai teknologi baru yang bermanfaat bagi ummat kadang masih kurang mendapat perhatian dan penghargaan dari ummat itu sendiri. Ummat dan masyarakat masih lebih menghargai ‘selebritis’ dari pada prestasi dari kinerja produktif yang dihasilkan para ilmuwan. Sehingga tidak bisa disalahkan ketika ‘turn over’ potensi ummat begitu tinggi. Sehingga potensi mereka justru di manfaatkan oleh ‘pihak’ lain.

Sudah saatnya kita kembalikan lagi regenerasi dan pengelolaan (Human resources management) ummat, agar tidak tersia-sia potensi yang telah dimiliki, serta bisa diakselerasi secara komulatif dalam kerangka ukhuwwah Islamiyyah, dengan pembinaan yang terstruktur, terarah, dengan tahap yang jelas, dengan tidak melupakan sisi kemanusiaannya untuk dihargai atas jerih payah dan kinerjanya, serta terakselerasi dari sisi horisontal maupun sisi vertikal. Oleh karenanya pembinaan (tarbiyyah), ummat harus dimulai dari proses rekrutmen dan seleksi yang terbuka dan ketat, reorientasi optimalisasi potensi, penempatan (placement) potensi yang sesuai, pelatihan dan pengembangan (training and development) potensi menghadapi tantangan masa depan, serta pemberian penghargaan yang layak demi kemanusiaan (compensation). Semoga akan mengembalikan kembali izzah ummat yang terlenakan.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. 3:110).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

flag


ShoutMix chat widget